Kacamata Fenomenologi : Air Mata Duka Akibat Keadilan Yang Lenyap Bersama Nyawa Bos Mobil Rental
Oleh : Stefanus Panca Raga
Semarak tahun baru kali ini cukup semerbak, lebih banyak kesunyian di jalan Makassar yang diguyur hujan, dan desahan keributan di beberapa wisma OYO yang full dibooking para pasangan yang dilanda euforia. Namun, selain suara kembang api dan desahan massal dalam hening beberapa jam setelahnya, kita harus sadari bahwa sepanjang momen menuju tahun baru kita ditemani oleh berbagai rentetan peristiwa dan fenomena, puncaknya ditutup oleh The Age of Agus Domination. Namun, apakah euforia kepanikan yang ada cuma sampai di situ? Ohh tidak,sebab sehari setelah euforia-euforia tersebut, tepatnya 2 Januari 2025 terjadi sebuah kasus yang mengawali pembukaan tirai sampah instansi “yang mulia” kita. Di suatu malam sunyi di Tangerang-Banten, terjadi kejar-kejaran antara pemilik mobil rental dengan konsumen mobil rental yang membawa lari mobil tersebut, yang berujung penembakan yang menewaskan si pemilik serta temannya yang menderita luka kemudian di rawat di rumah sakit setempat. Berita lebih jelasnya bisa kalian searching dengan kata kunci “penembakan bos rental mobil”.
Awalnya, saya berpikir bahwa ini hanyalah kasus biasa antara si konsumen yang kebablasan. Saya sama sekali tidak merasa aneh terkait mengapa bisa pelaku memiliki senjata api. Sekalipun kepemilikan senjata api oleh awam masih ilegal, bukan tidak mungkin itu bisa menjadi legal. Toh, apa sih yang tidak mungkin selama dompetmu cukup tebal, kan? Namun, kecurigaan mulai muncul ketika saya mulai menulusuri berita tersebut. Selanjutnya, kasus ini kemudian di laporkan oleh anak korban ke polres. Cukup klise, karena seperti biasa instansi ke(a)parat satu ini sangat suka bermain pingpong dengan masyarakat sebagai bolanya. Dari polres ke polsek kemudian ditolak, meninggalkan pertanyaan besar di kepala saya, “what the fuck was going on, dude?” Ketika korban meninggal jelas di depan mata mereka, bukti rekaman dan kesaksian juga lengkap namun tetap menolak bertindak segera sampai perlu didesak ratusan juta netijen, tentu meninggalkan lubang keganjilan yang lebih besar dari lubang kosong di dompetku. Dan di sinilah menariknya, sedikit demi sedikit samar-samar mulai tampak. Plot twist yang mengalahkan hebohnya serial Penthouse pun memunculkan fakta baru; dua pelaku ternyata merupakan “oknum” TNI. Jangan menebak arahnya kemana, GoogleMaps saja bisa nyasar dibuatnya karena saking gelapnya kasus ini. Meski bahasa saya sedikit nyeleneh izinkan saya masuk ke mode semi-serius untuk mengkaji kasus ini dari sudut pandang fenomenologi.
Sebagai pakar fenomenologi (tapi bohong), saya akan menganalisis berita tersebut dengan mengurainya dari dua perspektif, yaitu eksistensial dan struktural. Sederhananya, eksistensial disini berfokus pengalaman subjektif invidu yang ada, sedangkan struktural mengacu ke struktur sosialnya. Nah, kira-kira beginilah poinnya:
1. Dari aspek eksistensial, peristiwa penembakan menunjukkan kekerasan yang ekstrem, mempertanyakan makna kehidupan dan kematian. Saya sadar bahwa bagaimana makna ini sifatnya bisa berbeda tergantung orangnya, namun saya yakin kita sepakat dalam beberapa hal; bahwa kehilangan seorang figur ayah merupakan pukulan berat bagi siapapun, apalagi ketika mengetahui fakta bahwa figur hebat tersebut di bunuh dengan keji. Saya bisa membayangkan emosi yang dirasakan anak korban, secara saya juga pernah kehilangan sosok ayah. Amarah, sedih, takut, kecewa, stress, trust issue, kebingungan, serta gabungan dari emosi-emosi kompleks tersebut membuatnya tidak bisa digambarkan oleh kata-kata yang ada. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar khususnya di benak saya, mengingat kasus ini ditolak, menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana makna kehidupan dan keadilan itu sendiri. Disamping itu, menjadi tanda tanya besar di kemudian waktu tentang apa sih motivasi dari pelaku yang merupakan seorang “oknum” TNI? Sebagai seorang yang harusnya “sadar” dengan citra yang dia bawa, apakah mereka sadar dengan dampak dan konsekuensi dari tindakan mereka? Pertanyaan-pertanyaan lain berputar di kepala kita yang kemudian mempertanyakan kembali peran instansi-instansi hebat ini di dalam masyarakat, di momen dimana trust issues terhadap instansi tersebut kian menyeruak. Dan setelahnya, ketakutan yang tercipta tidak sesederhana di lingkup korban saja, lebih dari itu masyarakat dalam skala nasional mulai merasakannya. Tapi, saya salut, ditengah badai ini pihak keluarga korban tetap berdiri kokoh melawan dan percaya pada konsep yang disimbolkan oleh wanita buta pemegang timbangan; keluarga korban tidak menyerah dan tetap berjuang membawa ini ke jalur hukum bersama kekuatan ratusan juta netijen yang sudah muak dengan kinerja ke(a)parat selama ini.
2. Dari aspek struktural, peristiwa ini menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan dan otoritas yang ada. Dan itu dibuktikan dengan pelaku yang merupakan “oknum” TNI yang bersenjata menghilangkan nyawa orang awam. Cukup miris disini, mengingat bahwa tugas seorang TNI yang melindungi rakyat. Atau mungkin UU Nomor 34 Tahun 2004 hanyalah sebuah lelucon konyol, saya pun tidak habis pikir atau mungkin saya yang cuma budak korporat ini tidak akan sampai pada pikiran tercerahkan mereka. Yang jelas, tindakan yang mereka lakukan sudah termasuk bentuk penyelewengan yang nyata. Dalam beberapa kasus, kejadian ini membentuk konstruksi realitas sosial, yang sederhananya mempengaruhi persepsi masyarakat tentang lembaga TNI itu sendiri. Implikasinya, masyarakat yang kemudian mempersepsi hal tersebut menjadi tidak lagi percaya dengan instansi ke(a)parat. Kecuali ada yang cukup siap untuk ditembak begitu saja, saya pikir kita sepakat bahwa nyawa manusia tidak punya garansi untuk bertaruh pada hal ini.
Namun ada yang menarik ketika kita mulai beralih bagaimana hubungan antara pelaku dengan pengaruhnya terhadap proses penyelidikan dalam sudut pandang fenomenologi. Disclaimer, seluruh tulisan ini murni opini saya, jadi tolong jangan jadikan sebagai acuan, apalagi sebagai kitab atau menganggap saya nabi yang sudah pasti benar. Yah tentu saja hal ini tidak akan lepas dari bagaimana Foucault berteori tentang pengaruh kekuasaan itu sendiri. Kejadian ini meninggalkan kesan dan hal-hal spekulatif —khususnya saya— berpikir bahwa pelaku penembakan sebagaimana oknum TNI memiliki kekuasaan dan otoritas yang mempengaruhi proses penyelidikan. Berangkat dari sini polisi mungkin merasakan tekanan atau kekhawatiran dalam menyelidiki kasus yang melibatkan oknum TNI. Akibatnya, mungkin jadi polisi kemudian mengkonstruksi realitas bahwa kasus ini terkait dengan keamanan nasional atau kepentingan institusi TNI; sederhananya secara nyeleneh saya bisa katakan bahwa beliau-beliau ini terlalu sibuk menjaga citra saudara sejawatnya sekaligus menjaga kebiasaan agar tangan mereka tetap bersih (ups!). Sekarang setelah melihat ini semua, saya cukup mengerti mengapa penasihat POLRI kemarin bisa memberikan statement konyol tentang “menyelamatkan diri sendiri”. Ada terlalu banyak intrik kekuasaan, politik serta kultur “cantik” yang sudah dipelihara sejak masih bayi (kayak Malika kedelai hitam saya sendiri). Implikasi dari keputusan polisi yang angkat tangan dapat memicu kritik sosial sehingga masyarakat mungkin kehilangan kepercayaan terhadap lembaga keamanan. Tapi sepertinya tuan baju coklat kita tidak begitu peduli dengan hal tersebut, selama gaji bulanan dan jabatan dijamin tentunya. Entah apakah polisi juga sadar atau tidak bahwa keputusan angkat tangan ini dapat mempengaruhi emosi korban dan keluarga korban. Boro-boro sih memikirkan korban, perihal trust issue dari masyarakat saja dianggap biasa.
Terlepas dari panjang kali lebar tulisan saya, saya berharap yang terbaik buat keluarga korban. Turut berdukacita, semoga keadilan bisa tercapai dan kemudian menjadi tonggak serta awal tirai yang baru dari masa depan cerah instansi keamanan negeri kita. Salam damai. Sekian.
Sumber berita :
- https://www.instagram.com/p/DEVCXGYTQfF/?igsh=MW5jdTFpNXc3eW0ybg==
- https://www.instagram.com/p/DEeFXNgz0sb/?igsh=aTBhaXUwbnd2NDVl
- https://www.tribunnews.com/regional/2025/01/11/fakta-baru-kasus-penembakan-bos-rental-mobil-di-tol-tangerang-oknum-tni-al-2-kali-todong-korban
Sumber Referensi :
- Phenomenology of Perception (Maurice Marleau-Ponty)
- The Social Construction of Reality (Peter Berger dan Thomas Luckmann
- Being and Time (Martin Heidegger)
- Surveiller et Punit (Michael Foucault)
- Power/Knowledge (Michael Foucault)

Komentar
Posting Komentar