Foucault dan Nihilisme : Kekuasaan Sebagai Sebuah Ilusi Yang Tercipta Akibat Struktur Sosial

Oleh : Stefanus Panca Raga

Dinginnya malam yang ditemani dengan suara desahan tetangga yang lagi selingkuh ternyata tidak cukup dengan hanya dihangatkan oleh kopi saja. Dan, ditengah kebosanan ini saya memilih menenggelamkan diri dalam imajinasi sendiri tentang gaya bercinta apa yang tetangga saya gunakan sehingga desahannya bisa sekuat itu. Semakin lama saya tenggelam, saya makin menyadari bahwa hal tersebut hanya membuang-buang waktu dan pikiran saya yang sadar bahwa imajinasi-imajinasi tadi butuh pelampiasan tersendiri. Dan saya putuskan untuk mengakhiri imajinasi kotor tadi sembari nge-scroll obrolan grub diskusi di Whatsapp. 

Sembari saya mencari hal apa yang sekiranya bisa saya tanggapi,atau sekedar mencari inspirasi untuk membuat gaduh,saya tertarik dengan satu topik diskusi yang dibuat oleh seseorang di grub itu. Endoxa yang dicoba kemukakan orang itu menceritakan bagaimana perselingkuhan antara struktur kekuasaan Foucault dengan nihilisme menciptakan ilusi kekuasaan yang akhirnya membentuk lingkungan sosial di berbagai wilayah, termasuk negara gemah ripah loh kok miskin kita sekarang ini. 

Pertanyaan yang saya baca tersebut kemudian menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Pertanyaan yang saya salin dari grub Whatsapp tersebut itu kira-kira seperti ini. Apakah kekuasaan itu esensial sebagai suatu entitas yang mandiri, ataukah ia hanyalah fenomena yang lahir dari jejaring relasional yang terus berubah? Jika kekuasaan tidak bersumber dari individu atau institusi tertentu, melainkan mengalir melalui struktur yang membentuk dan dibentuk oleh wacana, maka siapakah yang sebenarnya "memegang" kekuasaan—atau apakah kekuasaan itu sendiri hanyalah ilusi yang dikukuhkan oleh kepatuhan massal terhadap narasi hegemonik? Jika demikian, apakah yang disebut sebagai "perebutan kekuasaan" hanyalah perpindahan titik tumpu dalam arsitektur dominasi, tanpa pernah benar-benar membebaskan siapa pun dari mekanisme kontrol yang lebih subtil dan tak kasatmata?

Pertanyaan ini mencoba menggali esensi kekuasaan dengan mempertanyakan apakah kekuasaan itu sesuatu yang berdiri sendiri atau hanya eksis dalam hubungan antara individu, kelompok, dan institusi. Dalam pemikiran klasik, kekuasaan sering dipandang sebagai sesuatu yang dapat dimiliki—misalnya, seorang raja memiliki kekuasaan atas rakyatnya, atau negara memiliki kekuasaan atas warganya. Namun, dalam perspektif yang lebih radikal, kekuasaan bukanlah sesuatu yang "dimiliki", melainkan sesuatu yang "mengalir" melalui jaringan hubungan sosial, ekonomi, dan wacana.

Foucault, misalnya, berargumen bahwa kekuasaan bukan hanya soal dominasi langsung, tetapi juga soal bagaimana pengetahuan, institusi, dan praktik sosial membentuk cara orang berpikir dan bertindak. Dalam pandangan ini, tidak ada satu entitas tunggal yang benar-benar "memegang" kekuasaan, karena kekuasaan beroperasi secara tersembunyi dalam mekanisme kontrol yang bahkan tidak selalu disadari oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Jika kita menerima bahwa kekuasaan bersifat relasional dan selalu berubah, maka pertanyaan tentang "siapa yang berkuasa?" menjadi lebih kompleks. Apakah individu atau kelompok yang tampaknya berkuasa sebenarnya hanya bagian dari mekanisme yang lebih besar yang terus melanggengkan struktur kekuasaan itu sendiri? Dan jika demikian, apakah yang disebut sebagai "perebutan kekuasaan" hanyalah perpindahan peran dalam sistem yang tetap mempertahankan pola dominasi yang sama? Ataukah ada kemungkinan kekuasaan bisa benar-benar dihancurkan atau didistribusikan secara adil?

Dengan pertanyaan ini, kita diajak untuk berpikir ulang tentang hakikat kekuasaan: apakah ia nyata atau sekadar konstruksi? Jika kekuasaan selalu bergantung pada kepatuhan dan pengakuan dari yang dikuasai, mungkinkah suatu saat sistem kekuasaan bisa benar-benar runtuh hanya dengan menolak untuk mematuhi struktur yang ada? Ataukah kekuasaan selalu akan menemukan cara baru untuk bertahan, bahkan dalam bentuk yang paling subtil sekalipun?

Jika menggunakan pendekatan Foucault tentang relasi kekuasaan, maka jawabannya jelas; bahwa "kekuasaan" itu sendiri tidak akan pernah runtuh (atau benar-benar runtuh), memang betul hanya peralihan saja atau lebih kerennya berubah dan beradaptasi untuk bertahan. Kekuasaan dalam pandangan lain ada untuk mengatur dan menciptakan harmoni dalam masyarakat, produknya adalah hukum. Pada akhirnya "kekuasaan" selalu punya cara untuk bertahan, sekalipun runtuh akibat revolusi dan anarki, pada akhirnya akan selalu ada lagi yang berkuasa entah dengan sistem yang berbeda atau hanya megulangi hal yang sudah-sudah. Subjek berganti, sistem berganti, namun esensi dari kekuasaan tetap ada. 

Kalau menggunakan pendekatan nihilisme, mengacu pada hal diatas maka tepat untuk dikatakan sebuah ilusi. Namun ilusi ini bukan seperti Tsukuyomi yang ada di anime Naruto, maksudnya disebutkan begitu karena nggk ada dasar objektifnya. Kok bisa? Yah karena sifatnya relatif, objeknya tidak ada, satu-satunya hal yang membuat itu bertahan karena adanya struktur sosial yang mempertahankan hal itu. Tapi ingat ilusi tersebut memiliki dampak yang nyata. Dampaknya itulah yang membentuk pola tatanan lingkungan kita sekarang bahkan sampai ke tingkat terkecil —by person to person— pun merupakan dampak nyata dari ilusi "kekuasaan" itu sendiri


Jadi, saya terpikir satu hal, bagaimana menghilangkan ilusi tersebut?


Sebelum berangkat lebih jauh, perlu kita pertimbangkan baik-baik untuk tidak melihat sesuatu berdasarkan hitam dan putihnya, atau kalau pakai bahasa logika informal hindari fallacy dilemma. Setiap hal termasuk kekuasaan itu tidak melulu tentang _hitam dan putih_ saja, karena dua hal ini sifatnya relatif. Jadi apakah itu perlu atau tidak-nya dihilangkan, tergantung kalian. Lagi-lagi dengan cara saya sendiri saya katakan "sesuai selera aja", meski dengan pendekatan filsafat, "selera" ini bisa begitu kompleks definisinya. Jadi saya akan fokus ke poin "bagaimana cara menghilangkan" ilusi tersebut. 

Nah, bisa saya katakan, selama pengalaman saya belajar filsafat dan politik, saya pribadi tidak melihat jawaban dan solusi pastinya untuk menghilangkan ilusi ini. Kok bisa? Yah suka-suka saya dong (kwkwkwk bercanda). Maksud saya, jawaban dalam filsafat ketika membahas problema fenomena ini masih berputar pada hal-hal spekulatif yang minim pembuktian, dan memang investasi waktunya begitu panjang. Dalam rentang waktu panjang tersebut, banyak hal bisa terjadi. Bahkan sesimpel dualisme gender aja bisa berubah jadi lebih dari warna pelangi, apalagi bicara praktek dari sebuah solusi. Terlalu banyak metafora tidak berguna ya? Baiklah mari kita lanjut. 

Jadi ada tiga hal yang bisa kita lakukan, yaitu: kritisisme, pemberdayaan individu kemudian perubahan sosial. Kalau dirangkum tiga-tiganya memiliki satu kesamaan, yaitu "peningkatan sumber daya manusia". Kritisisme menekankan pada tiap individu agar bisa berpikir analitik dalam mengkritik struktur sosial yang mempertahankan kekuasaan. Saya tahu ini sulit, sesulit meminta uang yang kalian pinjamkan ke teman. Namun, jika tiap pribadi melakukan ini, maka kita akan dapat beralih ke tahap selanjutnya, yaitu pemberdayaan individu. 

Pemberdayaan individu terjadi ketika kita mulai sering berpikir, bertanya, dan mencoba terbiasa menganalisis sesuatu. Selama saya ngajar dulu saya selalu bilang ke anak murid, bahwa awal mula pengetahuan serta pembeda kita dengan hewan lain adalah karena kita bisa bertanya menggunakan bahasa yang kita pakai. Satu-satunya potensi eksklusif yang HANYA dimiliki oleh manusia, tapi dinganggurin kan ngakak, kocak! (kwkwkwkwkwk). Seiring waktu, dengan terbiasa akan hal ini, kita akan mulai berkembang menjadi manusia yang naik level sedikit demi sedikit dalam tahapan menuju pencerahan, yaitu meningkatnya kesadaran, berani mengambil keputusan sendiri serta menjadi pribadi yang merdeka/independen dalam berpikir dan bertindak sehingga kita bisa mulai terlepas dari ilusi kekuasaan. 

Lalu, ujung dari itu apa? Yaitu perubahan struktur sosial itu sendiri. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut pada diri tiap pribadi lalu menjadi sebuah perubahan yang sifatnya kolektif, hal-hal tersebut akan bertumpuk dan dengan sendirinya akan membantu merekonstruksi struktur sosial yang ada dan dirasa ganjil sehingga tercipta masyarat yang lebih egaliter dan tidak lagi terikat oleh ilusi kekuasaan. 

Saya tidak akan berbicara apakah perubahan tersebut pada akhirnya baik atau buruk, karena setiap hal memiliki konsikuensi. Dan konsikuensi dari hal tersebut ialah tidak adanya ilusi yang mengontrol masyarakat. Potensi untuk terjadi anarki menjadi lebih besar (potensi ya, bukan absolut pasti terjadi). Anarki dalam kasus ini ialah benturan-benturan kepentingan antar sesama manusia, yang bisa saja berujung pada konflik. Namun, disinilah peran kesadaran itu dalam mengontrol masyarakat –by person to person– agar dikemudian hari tidak terjadi benturan-benturan kepentingan yang bisa berpotensi melanggar hak2 tiap orang. Perihal kesadaran dan bebas ini sendiri berkali-kali sudah pernah saya jelaskan baik dalam diskusi komentar di grub Fokus Filsafat maupun diskusi semantik online via g-meet dalam grub Fokus Filsafat. Sekian dan semoga dipahami.


Referensi : 

Foucault, M. (2000). Power: Essential Works of Foucault, 1954-1984. New York: The New Press.

Foucault, M. (1984). Pembicaraan dengan Paul Rabinow. Dalam P. Rabinow (Ed.), The Foucault Reader (hlm. 385-390). New York: Pantheon Books.

Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. New York: Pantheon Books.

Nietzsche, F. (1883-1885). Thus Spoke Zarathustra: A Book for All and None. Translated by R. J. Hollingdale. London: Penguin Books.

Nietzsche, F. (1887). The Genealogy of Morals. Translated by R. J. Hollingdale. Cambridge: Cambridge University Press.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

META HERMENÉUTIKA

aku adalah Dia Yang Tanpa Nama