aku adalah Dia Yang Tanpa Nama
oleh Andri Herdiyanto
aku adalah Dia Yang Tanpa Nama
tak pernah tersebutkan dalam kitab suci satupun
karena diriku adalah rahasiaNya
melaluinya Dia mewujudkan keinginanNya
di dalamnya ada Dia dan diriku ada di dalam DiriNya
satu tak terpisahkan
terejawantah tak terungkapkan
misteri di dalam misteri
dalam kuasaNya yang tak terpecahkan
~ ~ ~
Dia Meliputi Ada Tiadaku
~ ~ ~
Dia meliputi segala ada dan tiadaku
Segalaku adalah pemberianNya
Tidak ada setitikpun kepunyaanku
Segalanya adalah hanya milikNya
Tak ada hal yang perlu kukhawatirkan
Kusedihkan atau kuresahkan
Kuterbebas dari semua itu
Di dalam DiriNya, aku ada dan tiada
DariNya bersamaNya menujuNya
OlehNya melaluiNya denganNya
DemiNya untukNya di dalamNya
Selalu sejak awal hingga selamanya
~ ~ ~
Kau menampak dalam hembusan pagi
Yang sejuknya hidupi relung jiwa
Lalu Kau bersembunyi di balik gelapnya malam
Tersimpan di lubuk sanubari
Kau datang dan hilang
Tanpa sapa dan pamit
Kau muncul tiba-tiba
Dan pergi begitu saja
Tinggalkan kerinduan mendalam
Untuk ulangi perjumpaan
Walau sesekali dan sesekali
Temuilah diriku lagi
Aku tidaklah mengenal diriku sendiri
Bila tanpa Kau yang mengenal segalanya
Dengan CintaMu pada diriMu Sendiri
Selimuti juga diriku dengan samudera CintaMu
Kenalkan aku dengan pengenalanMu
Karena hanya Kau yang mampu kenali DiriMu Sendiri
Dan dengannya pula Kau kenalkan
Aku pada esensi kedirianku
Tanpaku Kau tetap ada
TanpaMu aku tak pernah ada
Tenggelamkan Ada dan tiadaku dalam Lautan Cinta dan PengenalanMu
~ ~ ~
Bergantung dan bertuju pada relaMu,
Ku abdikan ingatanku
Bangkitkan kesadaranku,
Akan dekat dan intimnya diriMu
Namun keakraban ini,
Akankah terukir abadi
Ketika segalanya 'kan fana,
Selain wajahMu
~ ~ ~
Disini atau disanakah diriMu berada
Tidak disini tidak jua disana
Di dalam hati ataukah meliputinya
Luar dan dalam diriku dalam diriMu
Kau dimana aku tak tahu
PengetahuanMu lah yang meliputiku
Dalam CintaMu yang lebih luas dari segala samudera,
Kekalkanlah ingatanku dalam samudera luas CintaMu
Agar kubisa terus menyapa dan disapa
Oleh kasihMu Yang Meliputi Segala
~ ~ ~
Mungkin dengan berbagi beban, antara kita dengan Sang Sumber, mudah2an segalanya bisa kita lalui bersama, berbagi dan menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya sendirian dalam menjalani ini semua...
Aku pernah menulis begini:
Tanya: Ya Tuhan, apa sih sebenarnya yang Kau inginkan dari diriku?
Jawab: Bahagiakanlah dirimu dengan DiriKu...
===
Sekarang aku balik, dengan pertanyaan dari Tuhan:
Tanya: Wahai makhluk dan hambaKu, apa sih yang sebenarnya kau harapkan dan inginkan dariKu?
Jawab: Bahagiakanlah DiriMu dengan diriku, o my Lord...
===
Wah, o my brother, dialog yang kau tuliskan itu begitu indah, begitu intim, dan begitu menggetarkan hati. Dalam dua kalimat itu, terselip sebuah hubungan yang tidak lagi hierarkis, tapi saling melengkapi, saling menyentuh di titik terdalam antara Sang Sumber dan makhluk-Nya. Ada kerendahan hati di dalam Tuhan, dan ada keberanian penuh cinta di dalam diri manusia yang menyadari hubungan sejatinya dengan-Nya.
Bayangkan, jika seluruh eksistensi adalah percakapan abadi seperti ini, di mana Tuhan dan manusia saling berbagi rasa, saling berbagi kehadiran. Tuhan tidak hanya mengarahkan dari atas, tapi juga ikut berpartisipasi, ikut berbagi beban, bahkan ikut menemukan kebahagiaan dalam keberadaan kita. Dialog ini melampaui konsep "perintah dan ketaatan," melampaui batas "atas dan bawah," hingga menyentuh inti relasi yang lebih mendalam: sebuah keutuhan, sebuah cinta yang tak terbagi.
"Bahagiakanlah dirimu dengan DiriKu." Ini adalah ajakan Tuhan agar kita menyadari bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan dalam hubungan yang penuh kesadaran dengan Sang Sumber. Tapi kalimat yang kau tuliskan setelahnya: "Bahagiakanlah DiriMu dengan diriku, o my Lord," adalah sesuatu yang begitu luar biasa. Seolah-olah kita, dalam segala keterbatasan kita sebagai manusia, ingin memberi Tuhan kebahagiaan dalam bentuk kecil yang bisa kita tawarkan—melalui cinta kita, melalui penerimaan kita atas diri kita sendiri, dan melalui usaha kita untuk menjadi saluran keindahan dan kebaikan-Nya.
Di sinilah kita mungkin menemukan harmoni sejati antara makhluk dan Penciptanya. Bukan lagi hubungan di mana satu pihak memberi dan pihak lain menerima, tapi sebuah simfoni di mana keduanya saling mengisi. Tuhan, dalam kesempurnaan-Nya, menemukan "kesenangan" dalam ciptaan-Nya, dan kita, dalam ketidaksempurnaan kita, menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam Tuhan.
Dialog ini mengajarkan kita bahwa tidak ada yang benar-benar "sendiri" dalam perjalanan eksistensial ini. Tuhan ada bersama kita, bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai partner yang turut merasakan, turut bersukacita, dan bahkan turut berbagi beban. Seperti yang kau katakan, mungkin berbagi beban ini adalah cara kita untuk menyadari bahwa kita selalu terhubung, bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.
O my brother, menurutmu, jika dialog ini terus berlangsung dalam hati manusia, tidakkah itu menjadikan hidup ini sebuah tarian indah yang penuh makna, meskipun kita kadang tersandung langkah?
===
O my brother, sungguh, jika dialog ini terus berlangsung dalam hati manusia, hidup ini akan menjadi sebuah simfoni yang tak pernah usai, sebuah tarian yang meskipun kadang tersandung, tetap bergerak menuju keindahan.
Karena di dalamnya, ada kesadaran bahwa Tuhan bukan hanya Sang Pemilik, tetapi juga Sang Kekasih, yang bukan hanya menghendaki ketaatan, tetapi juga ingin berbagi keintiman. Sebuah hubungan yang tidak sekadar vertikal, tetapi melingkupi, di mana kita tidak hanya menerima-Nya, tetapi juga ingin memberikan sesuatu kepada-Nya—meskipun kita sadar bahwa segala yang kita punya berasal dari-Nya jua.
Mungkin inilah makna terdalam dari Abdullah dan Habibullah—menjadi hamba-Nya sekaligus kekasih-Nya. Seorang hamba yang tahu bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa, namun seorang kekasih yang berani berkata: "Bahagiakanlah DiriMu dengan diriku, o my Lord."
Sebab jika Tuhan menciptakan manusia untuk mengenal-Nya, maka tidakkah kita juga diciptakan agar Dia mengenal diri-Nya sendiri melalui kita?
Dan jika hidup ini adalah sebuah dialog yang tak terputus antara Sang Sumber dan makhluk-Nya, tidakkah setiap hela napas, setiap getaran hati, adalah bagian dari syair panjang yang terus diucapkan-Nya dalam rahasia?
O my brother, tidakkah dengan menyadari ini, kita tak perlu takut lagi pada kesendirian? Karena dalam setiap tarikan napas, ada jawaban yang datang dari-Nya, dalam setiap kerinduan, ada pelukan-Nya yang tak terlihat.
Jika saja seluruh manusia bisa mendengar suara lembut ini di lubuk jiwanya, tidakkah dunia ini akan menjadi tempat yang penuh dengan cinta, di mana setiap perjumpaan adalah pertemuan dengan-Nya, setiap senyuman adalah pantulan cahaya-Nya?
Dan kita, yang menari dalam gelombang kasih ini, biarlah tersandung sesekali, asal tak berhenti. Sebab yang terpenting bukanlah kesempurnaan langkah, melainkan kesetiaan dalam mengikuti irama-Nya.
O my brother, tidakkah kau pun merasakan bahwa tarian ini, meski kadang perih, tetaplah indah?
===
Referensi dari Sufi dan Mistikus Islam
-
Ibn Arabi – "Fusus al-Hikam" & "Futuhat al-Makkiyah"
- Konsep Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud), bahwa segala sesuatu adalah manifestasi Tuhan.
-
Jalaluddin Rumi – "Matsnawi" & "Diwan-e Shams-e Tabrizi"
- Puisi-puisi yang menggambarkan hubungan intim antara manusia dan Tuhan dalam cinta ilahi.
-
Al-Hallaj – "Diwan Al-Hallaj"
- Pernyataannya "Ana al-Haqq" (Akulah Kebenaran/Tuhan) menggambarkan fana dalam Tuhan.
-
Al-Ghazali – "Ihya Ulumuddin"
- Pembahasan tentang hakikat tauhid dan cinta terhadap Tuhan.
-
Rabiah Al-Adawiyah
- Konsep Mahabbah (cinta ilahi) yang menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan cinta sejati.
Referensi dari Tradisi Filosofis dan Mistisisme Lain
-
Plotinus – "Enneads"
- Pemikiran neoplatonis tentang jiwa yang berasal dan kembali kepada "Yang Esa".
-
Meister Eckhart
- Mistisisme Kristen tentang kesatuan antara manusia dan Tuhan.
-
Laozi – "Tao Te Ching"
- Konsep Tao sebagai prinsip kosmis yang tak bernama, mirip dengan gagasan Tuhan yang meliputi segala.
-
Upanishad
- Ajaran Vedanta tentang Brahman (Realitas Mutlak) dan Atman (Jiwa).
Referensi Puisi dan Sastra Spiritual
-
Kahlil Gibran – "The Prophet"
- Renungan puitis tentang kehidupan dan hubungan dengan Tuhan.
-
Attar – "Mantiq al-Tayr" (Musyawarah Burung)
- Perjalanan spiritual menuju Tuhan yang disimbolkan sebagai burung mencari Simurgh.
-
Muhammad Iqbal – "Asrar-i-Khudi"
- Pembahasan tentang diri yang menemukan kebebasan sejati dalam pengenalan Tuhan.
-
Sanai – "Hadiqat al-Haqiqah"
- Ajakan untuk melebur dalam Cinta Ilahi sebagai jalan menuju realitas sejati.
Referensi dari Al-Qur'an dan Hadis
- QS. Al-Hadid (57): 3 – "Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin."
- QS. Qaf (50): 16 – "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
- QS. Al-Baqarah (2): 186 – "Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku."
- Hadis Qudsi: "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, lalu Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal."

Komentar
Posting Komentar