META HERMENÉUTIKA

Oleh Ahmad Zafran 

 Menurut KBBI, Meta adalah Sebuah bentuk terikat yang digunakan untuk menunjukkan "melampaui", "lebih tinggi", atau "berkaitan dengan diri sendiri". Sedangkan Hermeneutika Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hermeneutika adalah: 
 1. Penafsiran terhadap teks, terutama teks sastra atau agama.
 2. Cabang filsafat yang membahas teori dan metode penafsiran, khususnya dalam memahami makna teks, simbol, atau fenomena. 

 Kata melampaui dan lebih tinggi, terlihat berlebihan namun untuk memberikan suatu hermeneutika baru perlu dan di tuntut adanya suatu kebaruan dengan hermeneutika lama. Sebagai pemerhati hermeneutika, kita akan di bawa ke puncak hermeneutika tentang cara baca, cara memahami,bcara menafsirkan dalam Dekontruksi Derrida. 

 Jika ada terminologi meta psikologi, metafisika jadi mengapa tidak di munculkan kata meta pada hermeneutika. Antara Rekontruksi, Kontruksi dan Dekontruksi Sebagai pemerhati Hermeneutika tentunya Anda sudah memahami tentang 3 hal tersebut. Tanpa saya menjelaskan tentang kelebihan sekaligus kelemahan aliran tersebut. Lalu manakah Aliran 3 itu?

 Mungkin kelancangan dan arbiter bagi saya untuk memadukan 3 aliran tersebut. Namun tanpa mengurangi maksud dan tujuan saya ketika menghadirkan serta memadukan 3 aliran tersebut. Dan juga bukan menyepelekan aliran hermeneutika lainnya. Agar pemerhati filsafat mulai mengulik-ulik, mulai membaca sedikit 🤏 tentang hermeneutika. Jika ada pertanyaan yang muncul dalam benak Anda berarti maksud dan tujuan saya untuk memberikan goncangan pada hermeneutika ada semacam output walaupun itu masih berupa sebiji polong... 

Cara biasa atau cara luar biasa atau melampaui luar biasa. Sebagai pemerhati hermeneutika, saya yakin bahwa Anda memahami betul bahwa. Cara biasa dalam menafsirkan teks sudah di tempuh oleh Gadamer dan cara luar biasa di bahas oleh Derrida. Lantas bagaimana dengan cara melampaui luar biasa itu...? Adakah dalam pikiran Anda sebagai pemerhati filsafat dan spesifik lagi yaitu hermeneutika berpikir dan berkontemplasi sampai ke sana... Kalau sudah, apa yang bisa Anda sampaikan kepada saya atau kepada kami ini. Perihal tersebut? Lewat tulisan remeh temeh ini, saya mengajak Anda menyelami filsafat hermeneutika sekali lagi dan kemudian memberikan feedback atas pemikiran saya yang masih pemula ini. Selamat membaca dan selamat berpikir... 

Referensi : 
 1.Al-Fayyadl, M. (2005). Derrida. Yogyakarta: LKiS. 
 2.Hardiman, F. Budi. 2018 cetakan ke empat. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius. 
 3.Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Postmodernisme : Teori dan Metode. Jakarta: Rajawali Pers. 
 4.Sumaryono, E. (1999). Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 
 5.Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis Post Strukturalis .Yogyakarta : Kanisius.

Komentar